Artritis Reumatoid

arthritis-reumatoidRadang Sendi Penyerang jantung – Bukan Rematik Biasa

Gejalanya seperti rematik. Bila dalam 2-3 tahun tak diobati, penyakit ini dapat mengakibatkan cacat permanen dan menyumbat pembuluh darah jantung. Namanya Artritis Reumanoid. Kabar baiknya, penderita di Indonesia masih sedikit.

Tulang anda sering ngilu? Nyeri, bengkak, kaku, atau terasa hangat di bagian persendian. Bisa jadi anda menderita rematik. Hati-hatilah, karena rematik dapat mengganggu kinerja organ-organ tubuh, pembuluh darah bahkan sistem kekebalan tubuh. Sehingga bukan tidak mungkin bila rematik dalam tempo tertentu dapat merembet dan menyerang fungi organ tubuh vital yang lain.

Salah satunya adalah radang sendi atau arthritis reumatoid (AR) yang dapat berpotensi menyebabkan gangguan jantung. Namun perlu diperhatikan, tidak semua rematik adalah AR. Karena rematik sendiri punya lebih kurang 100 jenis dan AR adalah salah satu jenisnya.

Arthritis Reumatoid adalah penyakit autoimun progresif yang di tandai dengan peradangan membran persendian. Autoimun merupakan gangguan pada sistem imun yang menyebabkan kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Peradangan ini menyebabkan menurunkan fungsi dan penyempitan pembuluh darah yang disertai nyeri, kaku-pembengkakan dan akhirnya merusak sendi yang dapat menyebabkan cacat bila tidak diobati.

Sendi yang terjangkit biasanya sendi kecil seperti tangan dan kaki secara simetris (kanan dan kiri) mengalami peradangan sehingga bengkak, nyeri, dan kemudian cacat permanen. Kerusakan sendi sudah mulai terjadi pada 6 bulan pertama sejak penyakit ini menyerang dan cacat bias terjadi setelah 2-3 tahunpenyakit ini tidak diobati.

Untuk mendeteksi potensi itu dapat dilihat dari kadar C-Reactive Protein (CRP) yang merupakan penanda peradangan dan merupakan factor prediksi penyakit kardiovaskuler. Disisi lain, penderita arthritis reumatoid juga mengalami gangguan lipid yang ditandai dengan peningkatan Trigliserida, penurunan HDL, dan peningkatan LDL. Kedua kondisi tersebutlah yang kemudian memicu gangguan jantung. Sedangkan gangguan kardiovaskular yang dimaksud dapat berupa jantung koroner dan perikarditis.

“Penderita arthritis reumatoid berisiko terkena penyakit jantung, 1,6 kali lebih tinggi disbanding orang sehat,” ungkap dr LaniyatiHamioyo SpP-KR. M.Kesdari Sub Bagian Reumatologi Ilu Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Studi terbaru, tambah Laniyati, menunjukan bahwa 27 persen pasien arthritis reumatoid menunjukan gejala klinis gangguan kardiovaskular.

Dianggap Sepele

Di Indonesia, prevalensi arthritis reumatoid hanya 0,1-0,3 persen dikelompok orang dewasa dan 1:100 ribu jiwa dikelompok anak-anak. Total, diperkirakan hanya terdapat 360 ribu paien di Indonesia. “Walau prevalensi rendah, penyakit ini sangat progresif dan paling sering menyebabkan cacat,” ujar Prof DR dr Harry Isbagio, SpPD-KR, Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Meski demikian bukan berarti angka penderita itu tidak bisa menggemuk nantinya. Pasalnya, banyak masyarakat Indonesia yang menyepelekan rematik. Bahkan mereka kerap pukul rata kalau nyeri tulang itu pasti rematik, bukan arthritis reumatoid. Mengapa hal itu bisa terjadi? Kata pakar reumatologi ini, hal itu terjadi karena banyak penderita rematik terlambat memeriksakan diri. Selain itu, mereka hanya menganggap ini adalah radang sendi biasa, atau bisa juga karena diagnosis yang tidak tepat.

Padahal komplikasi arthritis reumatoid ini juga bukan hanya mengancam kesehatan jantung. Selain itu, diketahui bahwa 70 persen penderita arthritis reumatoid mengalami infeksi, risiko osteoporosis lebih tinggi, dan riiko kanker getah bening 25 kali lebih besar.

Terapi

Lalu bagaimana dengan pengobatannya. Dua jenis terapi arthritis reumatoid. Pertama, mengurangi rasa sakit dan pembengkakan pada sendi, misalnya dengan obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) dan kortikosteroid dosis rendah. Kedua, memperlambat atau mencegahprogresivitas penyakit, dengan cara DMARDs (Disease Modifying Arthritis Rheumatoid Drug),DMARD tradisional (contohMethotrexate), dan DMARD Biologis (contoh TNF Inhibitor, Rituximab, Tocilizumab).

Selain itu juga dapat dilakukan terapi tunggal dengan menggunakan tocilizumah. (penghambat antibody monoclonal IL-6 atau menghambat proses peradangan tubuh pada penderita arthritis reumatoid). Terapi tunggal itu juga dapat dikombinasi dengan methotrexate atau DMARDs lainnya.

Tocilizumah juga berefek samping yang tiodak serius, misalnya berupa infeksi saluran pernafasan bagian atas, nasofaringitis, sakit kepala, dan hipertensi. Sedangkan obat anti reumatik biologis lainnya (DMARDs) dapat menyebabkan infeksi yang serius dan reaksi hipersensitif termasuk beberapa kasus anaphylaxis, bahkan kerusakan hati.

Selain itu, bagi mereka yang menderita arthritis reumatoid, khususnya yang telah 10 tahun mengalaminya, perlu diterapi dengan cara yang sama dengan penderita gangguan jantung. Diantaranya pengendalian kolesterol dengan dosis efektif yang serendah mungkin, dan diminta untuk berhenti merokok.

Di amping itu juga ditambah dengan aktivitas pendukung lainnya, seperti melakukan diet, olah raga teratur (minimal 30 menit sehari), penurunan berat badan, dan mengendalikan tekanan darah.

Namun kata Harry, terapi tidak dapat memperbaiki kerusakan yang telah terjadi atau menyembuhkan penyakitnya. Meski pengobatan dini terbukti menentukan keberhasilan terapi. Sedangkan pengobatan yang agresif dapat memperbaiki fungsi sendi, mencegah cacat.  nala dipa

Suber: Koran Jakarta, Tanggal: 30 Januari 2011

Linked Post:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Be Sociable, Share!

Comments are closed