Propolis, obat kuno yang bisa memerangi AIDS

propolis untuk pengobatanSeolah-olah lebah tidak pernah cukup berbuat bagi kita, Peneliti Universitas Minesota telah merekrut serangga-seranga yang sibuk ini dalam memerangi AIDS. Lebah mengumpulkan getah tanaman yang menghambat pertumbuhan virus AIDS di laboratorium budaya, dan para peneliti mengeksplorasi potensi sebagai sumber baru obat anti-HIV.

Propolis secara medic telah digunakan sejak dahulu kala. Propolis untuk membantu mengendalikan bakteri, peradangan, infeksi jamur, dan virus, dan Anda dapat membelinya secara komersial dalam berbagai formulasi.

” Propolis sebenarnya resin dari pohon-pohon tertentu – birch, poplar, beberapa tumbuhan runjung,” kata pakar lebah Marla Spivak, profesor entomologi di U. “Lebah mengambilnya di kaki belakang mereka dan menggunakannya untuk menutup pintu-pintu masuk ke sarang dan untuk menambal celah-celah di dalam sarang. ” Berkat propolis, sarang lebah adalah salah satu lingkungan yang paling steril di Bumi – hal yang baik untuk sebuah hunian dengan ribuan penduduk.

Menurut Phil Peterson, Profesor Kedokteran dan Direktur Divisi Penyakit Menular dan Kedokteran Internasional dari Universitas Minesota, kebutuhan terhadap obat AIDS baru tidak lebih mendesak.

Peneliti Lana Barkawi telah menemukan beberapa aktivitas anti-HIV paling kuat dalam propolis dari Minnesota tenggara dan utara dan dari Cina.

“Sekitar 36 juta orang terinfeksi HIV (virus AIDS), dan 20 juta telah meninggal karena AIDS,” katanya. “Tujuh puluh lima persen kematian terjadi di sub-Sahara Afrika, tetapi epidemi ini cepat beralih ke India dan Asia Tenggara. Setiap hari ada 16.000 infeksi baru.”

Sekitar setahun yang lalu, HIV sudah melampaui tuberculosis (TB) sebagai penyakit menular  nomor satu di dunia. TB tetap menempati posisi teratas infeksi oportunistik pada pasien HIV, bagaimanapun, dan hal itu akan mendatangkan malapetaka di tempat-tempat seperti India dan negara-negara berkembang , di mana sanitasi dan akses perawatan kesehatan secara baik kebanyakan masih rendah.

Di banyak negara, biaya terapi obat AIDS saat ini masih mahal. Tiga-obat “koktail” yang merevolusi pengobatan AIDS di negara maju biayanya $ 10,000 per tahun di Amerika Serikat, kata Peterson. Di India, di mana formulasi obat generik obat tersedia, biayanya $ 180 per tahun, tetapi untuk sebuah negara yang pendapatan rata-rata adalah $ 400 per tahun, harga tersebut masih cukup mahal..

Di Universitas, berlomba-lomba untuk mendokumentasikan fungsi-fungsi anti-HIV yang sepsifik dari propolis, menentukan komponen-komponen mana saja yang aktif, dan menemukan wilayah geografis di mana propolis paling efektif dibuat, semua dengan harapan akan menemukan sebuah obat yang efektif tetapi murah .

Peterson dan rekan-rekannya telah meneliti kemampuan propolis untuk menghalang infeksi HIV. HIV merusak sistem kekebalan dengan cara menginfeksi sel darah putih yang disebut limfosit CD4, sel-sel yang secara normal seharusnya menghancurkan virus. HIV juga menyerang sel-sel otak yang disebut microglia, yang membantu melawan infeksi pada sistem saraf.

Para peneliti menumbuhkan sel-sel dalam kultur dengan jumlah propolis yang bervariasi dan menambahkan HIV. Mereka menemukan bahwa semakin banyak propolis, semakin kurang HIV tumbuh di dalam sel. Bukti tersebut menunjukkan bahwa propolis mencegah virus memasuki sel. Propolis juga sepertinya bekerja secara sinergis dengan obat AIDS AZT.

University’s Center for Drug Design – yang dipimpin oleh Robert Vince, pengembang utama obat AIDS ABC – juga terlibat dalam upaya tersebut. Sebagai contoh, senior associate director Ramaiah Muthyala telah menemukan bahwa propolis menghambat enzim yang membantu HIV mengeram dalam genom sel inang. Propolis juga menghambat enzim yang membantu virus bereplikasi. Pengujian dilakukan oleh Jay Brownell, yang mencatat bahwa propolis menghambat enzim ini jauh lebih baik daripada beberapa obat-obatan yang digunakan secara klinis, seperti amprenavir dan indinavir. Upaya utama Muthyala mengetengahkan pada identifikasi struktur kimia komponen aktif dalam propolis – sekali ini terisolasi – dan mengembangkan sarana mensintesis molekul aktif tersebut di laboratorium.

Hasil-hasil penelitian ini menggembirakan, tapi banyak yang masih harus dilakukan. Untuk mengenali keragaman pohon-pohon dan lebah, Lana Barkawi,  yang bekerja pada Laboratorium entomologi Profesor Jerry Cohen, sedang melakukan pengujian propolis dari seluruh dunia. Dia telah menemukan beberapa aktivitas anti-HIV terkuat dalam propolis dari Minnesota tenggara dan utara dan dari Cina. Cohen dan Barkawi juga berusaha untuk mengidentifikasi substansi di dalam propolis yang bertanggung jawab atas sifat anti-HIV.

“Jika Anda ingin mendapatkan ini disetujui oleh FDA, Anda harus membakukannya (standarisasi)” kata Peterson. “Kami percaya itu sangat penting untuk menemukan bahan-bahan aktif dalam propolis.”

Proyek propolis tersebut adalah contoh dari penelitian interdisipliner Universitas yang didukung oleh Pusat Kesehatan Tumbuhan dan Manusia. Direktur Pusat Gary Gardner juga merupakan anggota aktif dari tim propolis ini. Pekerjaan ini didanai oleh bantuan dana hibah sebesar $ 32.000 dari Graduate School.

Sumber: UMNews 24 Mei 2004 (University of Minesota)

Linked Posts:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Be Sociable, Share!

Comments are closed