“Sakazakii” di Susu Formula

Apa pun yang terjadi sebenarnya infeksi bakteri Enterobacter sakazakii perlu diwaspadai. Dalam catatan WHO Enterobacter sakazakii merupakan bakteri dari keluarga Enterobacteriaceae yang terdiri dari berbagai macam bakteri yang dapat ditemukan di dalam tumbuh manusia, hewan, atau lingkungan.

Bakteri Enterobacter sakazakii dapat menyebar dengan bantuan mikroorganisme sehingga menyebabkan meningitis dan radang usus. Sebanyak 20-50 persen yang terjangkit bakteri ini dinyatakan meninggal. Sedangkan bagi mereka yang bertahan, akan mengalami gangguan saraf.

Asal bakteri ini masih misterius. Entah datang dari mana. Yang pasti keberadaannya hanya dapat dideteksi ketika telah berada di dalam tubuh manusia, hewan, atau lingkungan. Bakteri Enterobacter sakazakii bisa masuk melalui benda-benda/bahan baku makanan.

Khususnya bahan makanan dalam kemasan berbentuk tepung atau bubuk. Sedangkan anak di bawah usia satu tahun adalah obyek yang paling rentan terinfeksi bakteri Enterobacter sakazakii. Masa inkubasi bakteri juga cukup cepat, sekitar 28 hari, tapi bisa lebih cepat.

Lalu, bagaimana cara mengurangi risikonya. Karena bakteri ini kerap berada di dalam bubuk formula/ tepung, maka diperlukan cara sterilisasi yang lebih baik terhadap dua zat tersebut.

Pemberian ASI, sebagai asupan utama bayi, bukan susu formula diyakini WHO sebagai langkah terbaik terhindar dari infeksi bakteri Enterobacter sakazakii. Bahkan dengan pemberian ASI, 50-80 persen bayi akan terbebas dari infeksi bakteri ini.

Kalau pun terpaksa menggunakan susu bakteri. Harus dipastikan, susu formula itu memiliki standar yang sesuai.

FAO dan WHO pernah melansir Codex Alimentarius Commission yang berisi standar makanan/ minuman aman. Yakni makanan/ minuman dalam kemasan berbentuk formula perlu terbebas dari bakteri yang mematikan ini.

Dalam catatan WHO, sepanjang 1961-2003, terdapat 48 kasus yang melibatkan bakteri ini. US FoodNet pada survei 2002, menemukan sebanyak 1 dari 100 ribu bayi terinfeksi bakteri ini. Dalam catatan WHO, kasus infeksi bakteri Enterobacter sakazakii sayangnya, kerap terjadi di negaranegara berkembang.

Persoalan ke sadaran akan makanan/minuman yang sehat dan aman, termasuk faktor lingkungan yang buruk, menjadi pemicu kasus-kasus tersebut terjadi di negara- negara berkembang.

Gejala Demam tinggi dan kerap tidak stabil, tidak mau makan, terjadi iritasi kulit, sulit bernapas atau kalau bernapas seperti mendengkur. Sedangkan bila sudah para akan terjadi indikasi meningitis yang memiliki gejala demam tinggi, anak menjadi gusar dan selalu menangis, sulit tidur, sulit makan, leher tegang dan agak bengkak.

Menurut situs Mayoclinic, sebuah situs tepercaya milik klinik kesehatan Mayo di AS, menyebutkan ada beberapa langkah yang dapat menurunkan risiko bakteri ini. Misalnya ketika menggunakan susu formula, perlu dicampur dengan air matang dengan panas minimal 70 derajat celsius.

Selain itu mengganti susu bubuk formula menjadi susu cair segar karena bakteri Enterobacter sakazakii tidak ada dalam air. Jangan memberikan anak susu formula yang sudah 24 jam sebelumnya sudah di buat tapi tidak dikonsumsi. Bakteri ini akan hidup di suhu 37- 44 derajat celsius. Kemudian akan melemah bila suhu 50-60 derajat celsius.

Bakteri ini tidak tahan panas. Di atas suhu 60 derajat celsius selama 15 detik akan mati. Sebenarnya selain Enterobacter sakazakii, dalam makanan/minuman formula berbentuk bubuk ada satu patogen lagi yang berbahaya, yakni Salmonella.

Dianggap Baru Dosen Institut Pertanian Bogor, Dr Sri Es tuningsih, kepala tim peneliti bakteri yang kemudian menemukan terdapat dalam beberapa susu formula yang dipasarkan, pernah menyebutkan, bahwa di Indonesia bakteri Enterobacter sakazakii termasuk baru dikenal.

“Padahal di AS sejak 1980-an sudah ramai dibicarakan,” ujar dia pakar patologi dan mikrobiologi ini. Namun kata dia, ada beberapa kondisi khusus yang membuat seorang bayi dapat mudah terinfeksi bakteri Enterobacter sakazakii.

Misalnya bayi yang usianya belum genap 30 hari, prematur, berat badan kurang ideal (di bawah 2,5 kilogram), atau bayi dari ibu yang seorang pengidap HIV/AIDS. Menurut dia bahwa bakteri Enterobacter sakazakii berbahaya adalah benar. Namun tidak perlu terlalu khawatir bila cara antisipasinya telah diketahui.
nala dipa

Sumber : Koran Jakarta, 6 Maret 2011

Linked Posts: