Menakar Konsentrasi Optimal Propolis

konsentrasi optimal propolisSejak ribuan tahun yang lalu umat manusia telah memanfaatkan propolis untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Selama itu pula para ahli kesehatan, terutama di dunia timur terus-menerus mengeksplorasi manfaat cairan untuk menggali khasiat cairan yang dihasilkan oleh lebah itu. Tak heran bila pengguna propolis dari waktu ke waktu semakin banyak saja.

Sayangnya sampai sekarang, dunia kedokteran moderen belum menerima propolis dalam mekanisme pengobatan penyakit. Mereka beralasan hingga kini tidak ada informasi jelas tentang tingkat konsentrasi optimal yang mampu menjamin efektivitas propolis pada proses pengobatan penyakit.

Namun dari serangkaian penelitian yang telah dilakukan beberapa tahun terakhir, jawaban atas permasalahan ini akan segera didapatkan. Pencarian itu mulai menemui titik terang pada 2008. Ketika itu tim peneliti dari Universitas Valencia dan Hospital La Fe berhasil membuktikan bahwa propolis dapat melindungi kromoson dan DNA.

Secara lebih rinci penelitian ini menyimpulkan cairan propolis dapat mereduksi setengah dari kerusakan kromoson yang disebabkan radasi terionisasi. Selain itu cairan yang dihasilkan lebah itu juga mampu melindungi DNA dari proses itu. Temuan inilah yang kemudian menjadi titik berangkat pencarian tingkat konsentrasi optimal propolis.

Penelitian ini pun mewujud pada 2012. Sekelompok peneliti dari berbagai universitas di Spanyol melakukan studi in vitro cytotoxity , proses pemberian racun pada sel di luar tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat konsentrasi optimal propolis dalam memberikan perlindungan maksimal melawan radiasi yang terionisasi, namun tak sampai meracuni sel darah.

Tim peneliti menggunakan empat molekul genetik dalam eksperimen ini. Menurut Alegria Montoro, seperti yang dilansir laman phys.org, penggunaan molekul ini memperlihatkan pengaruh substansial propolis pada sel, termasuk di dalamnya ini sel yang terkena racun. Selain itu juga propolis mampu mengubah fase pembelahan sel dengan mempercepat, memperlambat atau bahkan menghentikan proses itu.

Di luar itu, penelitian ini juga menggunakan indeks perkembangbiakan sel dan proliferasi kinetik sel. Tujuannya untuk mengetahui apakah memiliki efek toksik (racun) di dalam sel.

Dari serangkaian eksperimen yang dilakukan, tim peneliti akhirnya menarik simpulan penelitian ini. Mereka berhasil mengungkapkan tingkat konsentrasi optimal propolis , yaitu antara 120-500 mikrogram/mL. Dalam rentang itu, tim peneliti ini berkeyakinan dapat diperoleh perlindungan maksimal melawan racun kerasukan. Mereka juga mengaransi tidak terjadi kerusakan dan keracunan pada sel (cytotoxicity) dan gen (genotoxicity).

“Melalu studi ini kami telah mengetahui tingkat percobaan in vitro , konsentrasi optimal propolis yang digunakan untuk membuat proses itu berjalan sebagai agen pelindung radiasi, tanpa mengalami proses peracunan pada sel-sel normal, kata Alegria Montoro seperti dilansir laman phys.org.

Temuan ini merupakan langkah pertama untuk uji klinis di masa depan. Sasaran akhirnya adalah mengubahnya menjadi kapsul-kapsul yang memiliki dosis propolis yang cukup. Namun dibutuhkan beberapa penelitian lagi sebelum langkah akhir itu dapat ditempuh.

Linked Posts: