Pencegahan kanker – Mencegah Sebelum Kronis

pencegahan kanker sebelum kronisDalam mengatasi penyakit kanker, hal utama yang harus diperhatikan bukanlah pengobatan, melainkan upaya pencegahan yang meliputi cara penurunan tingkat obesitas, memperbaiki gaya hidup, mengurangi penggunaan tembakau, dan melakukan deteksi dini. Selain itu, diperlukan penelitian intens terkait kanker.

Salah satu penyakit yang kerap menjadi momok bagi manusia adalah kanker. Hal itu dikarenakan kanker termasuk penyakit yang dapat menimbulkan kematian. Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan, setiap tahun, sekitar 12 juta orang di seluruh dunia terserang kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia. Jika tidak dikendalikan, pada 2030, penyakit tersebut diperkirakan menyerang 26 juta orang dan memakan korban jiwa 17 juta orang di antaranya.

Tingginya angka penderita kanker terjadi pula di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemkes), prevalensi kanker di Tanah Air mencapai 4,3 per 1.000 penduduk. Di Pulau Jawa saja, diperkirakan ada sekitar 500 ribu penderita kanker setiap tahunnya. Kondisi yang memprihatinkan itu tidak terlepas dari belum ditemukannya metode pengobatan kanker yang cespleng.

Oleh karena itu, diperlukan penelitian serta penanganan khusus terkait penyakit yang disebabkan adanya pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal tersebut. Berdasarkan kajian medis, diketahui bahwa sel-sel kanker berkembang sangat cepat, tidak terkendali, dan terus membelah diri. Pada tahap lanjut, sel-sel tersebut menyusup ke jaringan sekitarnya dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, kemudian menyerang organ-organ penting serta saraf tulang belakang.

Dalam keadaan normal, sel hanya membelah diri ketika terjadi penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Namun, pada sel kanker, berlaku hal yang tak lazim, yakni sel akan terus membelah meskipun tubuh tidak memerlukannya. Kondisi itu menyebabkan terjadinya penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal yang berakibat mengganggu organ yang ditempatinya.

Kanker dapat menyerang berbagai jaringan dan organ tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Apabila penyakit itu menyerang bagian permukaan tubuh, pendeteksian dan pengobatannya terbilang lebih mudah. Namun, jika serangan kanker terjadi di dalam tubuh, pendeteksiannya lebih sulit karena terkadang penyakit tersebut tidak memperlihatkan gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya penyakit sudah memasuki stadium lanjut sehingga sulit diobati.

Untuk mengantisipasi kanker memasuki stadium lanjut, menurut Harold Varmus, peraih Nobel bidang genetika dasar kanker pada 1989, diperlukan penelitian serius termasuk pengaplikasian dari penelitian terhadap kanker tersebut. Hal tersebut diungkapkan Varmus dalam acara seminar dengan topik “Mengembangkan dan Mengaplikasikan Penelitian Kanker” yang diselenggarakan di aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), beberapa waktu lalu.

Varmus yang menjabat sebagai Direktur The US National Cancer Institute (NCI) getol mengusung program pencegahan kanker. Dia mengatakan dalam menangani kanker, hal yang perlu diperhatikan adalah pencegahan, bukan pengobatan. Bisa dikatakan pencegahan memegang peran utama dalam mengurangi beban akibat kanker.

Ubah Gaya Hidup

Pencegahan tersebut meliputi cara penurunan tingkat obesitas, memperbaiki gaya hidup, mengurangi penggunaan tembakau, dan melakukan deteksi dini. “Masyarakat mesti diedukasi tentang bahaya kanker dan diajak untuk mengubah gaya hidup supaya lebih sehat. Sehat dapat membuat usia manusia menjadi lebih panjang,” papar Varmus. Lebih jauh, Varmus mengatakan bahwa upaya pencegahan tersebut tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi mesti bersama-sama antara pemerintah, kalangan akademisi, serta lembaga penelitian.

Mengenai penelitian pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan penyakit kanker, beberapa pihak seperti perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, rumah sakit, serta pemerintah dapat turut mengambil bagian. Khusus mengenai pemerintah, pelaksanaan penelitian tersebut berkaitan dengan tanggung jawab pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Hal tersebut diamini pula oleh Ratna Sitompul, Dekan FKUI. “Kami sebagai bagian dari pemerintah akan ikut andil dan ikut mengembangkan penelitian tentang kanker,” ujar dia.

Andil yang dimaksud Ratna antara lain ialah mendorong para dokter untuk ikut meneliti. Sebagai tenaga medis, kata dia, tugas para dokter bukan hanya melayani pasien di rumah sakit. Mereka juga mesti mengembangkan ilmu yang selama ini telah diperoleh dan dipraktikkan.

“Kesalahan para dokter di Indonesia adalah enggan melakukan penelitian. Akibatnya, ilmu kesehatan atau kedokteran tidak berkembang seperti di luar negeri,” papar dia.

Kondisi tersebut tentunya patut disayangkan. Pasalnya, dengan melakukan penelitian, pengetahuan dokter secara otomatis justru akan meningkat karena mereka harus terus meng-up date ilmu kedokteran. Dalam rangka meningkatkan kualitas penelitian tersebut, tidak menutup kemungkinan dilakukan kerja sama dengan pihak-pihak asing.

Sebagai contoh, kerja sama dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Melalui The United States Agency for International Development (USAID), Pemerintah AS berkomitmen membantu pendanaan sebesar 13,5 juta dollar AS untuk menjalankan program Partnership for Enhanced Engagement in Research Health.

Adanya program yang digagas bersama the National Institute of Health (NIH) itu diharapkan dapat meningkatkan jumlah penelitian kesehatan, termasuk penelitian mengenai kanker di banyak negara. Untuk itu, kata Ratna, seyogianya Indonesia benar-benar memanfaatkan bantuan tersebut agar penelitian kesehatan di Tanah Air semakin meningkat, baik jumlah maupun kualitasnya. faisal chaniago

Sumber: Koran Jakarta, 19 Agustus 2012

Linked Posts: