Menikah Bikin Hormon Testosteron Meningkat

hormon testosteronAda beberapa berita baik di balik sebuah pernikahan. Sebuah riset terbaru mengindikasikan bahwa pria yang sudah menikah memiliki tingkat hormon testosteron jauh lebih tinggi daripada rekan-rekan mereka yang belum menikah.

Seperti diketahui, secara alamiah, produksi hormon testosteron akan turun seiring bertambahnya usia seseorang. Namun riset teranyar mengungkapkan, menurunnya produksi testosteron tidak selalu karena usia, tetapi juga terkait dengan perilaku, seperti merokok, obesitas dan depresi.

Dalam kajiannya, peneliti menganalisis pengukuran testosteron pada lebih dari 1.500 pria. Tingkat hormon mereka diuji sebanyak dua kali, dengan jarak setiap pengujian lima tahun. Semua sampel diuji dengan pengukuran yang sama pada waktu sebelum dan setelah lima tahun.

Rekan peneliti, Dr Gary Wittert, dari University of Adelaide menemukan bahwa tingkat testosteron peserta rata-rata turun sebesar 1 persen setiap tahun.

Namun, ketika dibagi dalam subkelompok, peneliti menemukan pola yang berbeda, di mana faktor-faktor tertentu tampaknya mempengaruhi penurunan hormon testosteron lebih signifikan selama periode penelitian tersebut. Penurunan terbesar produksi testosteron terjadi di antara pria yang gemuk, sudah berhenti merokok dan mengalami depresi.

“Ketika seseorang berhenti merokok, penurunan kadar hormon testosteron cenderung lebih rendah. Manfaat dari berhenti merokok sangat besar,” kata Wittert.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peserta yang belum menikah mengalami penurunan lebih besar kadar hormon testosteron daripada pria yang sudah menikah.

Wittert mengatakan temuan ini mungkin mendukung penelitian lain yang menunjukkan bahwa pria menikah cenderung lebih bahagia dan lebih sehat dibanding pria lajang. Dia juga mengatakan bahwa aktivitas seksual secara teratur cenderung meningkatkan kadar testosteron.

Studi ini didanai oleh National Health and Medical Research Council of Australia.

Pada pria, hormon testosteron diproduksi di testis. Hormon ini berfungsi mengontrol perkembangan karakteristik seksual pria. Keberadaan hormon ini sangat vital karena mempengaruhi kesehatan, fungsi seksual dan kesuburan serta membantu mempertahankan komposisi tubuh yang sehat, mengembangkan massal otot, mencukupi jumlah sel darah merah, dan melindungi kepadatan tulang.

“Sangat penting dokter memahami bahwa menurunnya kadar testosteron tidak hanya bagian dari proses penuaan. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh perilaku kesehatan atau status kesehatan orang itu sendiri,” tutupnya.  Sumber:fox news, medicalnewstoday

Sumber:  health.kompas.com ,  Selasa, 26 Juni 2012

Linked Posts:

==============================================================
Promo Produk
MELIA BIYANG (HGH)
“RAHASIA MUDA KEMBALI DALAM GENGGAMAN”
HGH atau Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan Manusia) dihasilkan oleh Kelenjar Pituitary. Jika volume produksi HGH manusia berkurang maka terjadi proses penuaan.

Melia Biyang adalah Ramuan alami yang berfungsi untuk merangsang kelenjar Pituitary agar terus memproduksi Hormon Pertumbuhan.


Kandungan Melia Biyang :
-Kolostrum (susu awal)
-Vitamin B1, B2, B3, B6, B9
-Asam Amino & Calsium

Manfaat Melia Biyang di antaranya :
-Meningkatkan daya ingat
-Menambah stamina fisik dan mental
-Meningkatkan kemampuan seksual
-Mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan imunitas
-Membantu penyembuhan darah tinggi/stroke
-Meningkatkan sistem metabolisme
-Meningkatkan kekuatan tulang
-Membantu mengembalikan warna rambut dan pertumbuhannya
-Merangsang fungsi organ-organ tubuh yang vital : Jantung,Hati,Pankreas,Limpa dan Ginjal

Dr. DANIEL RUDMAN :
Penggunaan HGH (Human Growth Hormon) selama 6 bulan secara teratur, akan mampu memperlambat perubahan penuaan kurang lebih 20 tahun

Linked Posts:
Harga Melia Biyang | Agen Melia Biyang


Rokok vs Ekonomi: Mitos dan Fakta

rokok vs ekonomiMitos:
Industri rokok memberikan kontribusi pemasukan negara dengan jumlah besar.

Fakta:
Negara membayar biaya lebih besar untuk rokok dibanding dengan pemasukan yang diterimanya dari industri rokok. Penelitian dari World Bank telah membuktikan bahwa rokok merupakan kerugian mutlak bagi hampir seluruh negara. Pemasukan yang diterima negara dari industri rokok (pajak dan sebagainya) mungkin saja berjumlah besar, tapi kerugian langsung dan tidak langsung yang disebabkan konsumsi rokok jauh lebih besar.

Biaya tinggi harus dikeluarkan untuk membayar biaya penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh rokok, absen dari bekerja, hilangnya produktifitas dan pemasukan, kematian prematur, dan juga membuat orang menjadi miskin lebih lama karena mereka menghabiskan uangnya untuk membeli rokok.

Biaya besar lainnya yang tidak mudah untuk dijabarkan termasuk berkurangnya kualitas hidup para perokok dan mereka yang menjadi perokok pasif. Selain itu penderitaan juga bagi mereka yang harus kehilangan orang yang dicintainya karena merokok. Semua ini merupakan biaya tinggi yang harus ditanggung.

Mitos:
Mengurangi konsumsi rokok merupakan isu yang hanya bisa diatasi oleh negara-negara kaya.

Fakta:
Sekarang ini kurang lebih 80% perokok hidup di negara berkembang dan angka ini sudah tumbuh pesat dalam beberapa dekade saja. Diperkirakan pada tahun 2020, 70% dari seluruh kematian yang disebabkan rokok akan terjadi di negara-negara berkembang, naik dari tingkatan sekarang ini yaitu 50%. Ini berarti dalam beberapa dekade yang akan datang negara-negara berkembang akan berhadapan dengan biaya yang semakin tinggi untuk membiayai perawatan kesehatan para perokok dan hilangnya produktifitas.

Mitos:
Pengaturan yang lebih ketat terhadap industri rokok akan berakibat hilangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau dan pabrik rokok.

Fakta:
Prediksi mengindikasikan dengan jelas bahwa konsumsi rokok global akan meningkat dalam tiga dekade ke depan, walau dengan penerapan pengaturan tembakau di seluruh dunia. Memang dengan berkurangnya konsumsi rokok, maka suatu saat akan mengakibatkan berkurangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau. Tapi ini terjadi dalam hitungan dekade, bukan semalam. Oleh karenanya pemerintah akan mempunyai banyak kesempatan untuk merencanakan peralihan yang berkesinambungan dan teratur.

Para ekonom independent yang sudah mempelajari klaim industri rokok, berkesimpulan bahwa industri rokok sangat membesar-besarkan potensi kehilangan pekerjaan dari pengaturan rokok yang lebih ketat. Di banyak negara produksi rokok hanyalah bagian kecil dari ekonomi mereka. Penelitian yang dilakukan oleh World Bank mendemonstrasikan bahwa pada umumnya negara tidak akan mendapatkan pengangguran baru bila konsumsi rokok dikurangi. Beberapa negara malah akan memperoleh keuntungan baru karena konsumen rokok akan mengalokasikan uangnya untuk membeli barang dan jasa lainnya. Hal ini tentunya akan membuka kesempatan untuk terciptanya lapangan kerja baru.

Mitos:
Pemerintah akan kehilangan pendapatan jika mereka menaikan pajak terhadap industri rokok karena makin sedikit orang yang akan membeli rokok.

Fakta:
Bukti sudah jelas: perhitungan menunjukkan bahwa pajak yang tinggi memang akan menurunkan konsumsi rokok tetapi tidak mengurangi pendapatan pemerintah, malah sebaliknya. Ini bisa terjadi karena jumlah turunnya konsumen rokok tidak sebanding dengan besaran kenaikan pajak. Konsumen yang sudah kecanduan rokok biasanya akan lambat menanggapi kenaikan harga (akan tetap membeli). Lebih jauh, jumlah uang yang disimpan oleh mereka yang berhenti merokok akan digunakan untuk membeli barang-barang lain (pemerintah akan tetap menerima pemasukan). Pengalaman mengatakan bahwa menaikan pajak rokok, betapapun tingginya, tidak pernah menyebabkan berkurangnya pendapatan pemerintah.

Mitos:
Pajak rokok yang tinggi akan menyebabkan penyelundupan.

Fakta:
Industri rokok sering beragumentasi bahwa pajak yang tinggi akan mendorong penyelundupan rokok dari negara dengan pajak rokok yang lebih rendah, yang ujungnya akan membuat konsumsi rokok lebih tinggi dan mengurangi pendapatan pemerintah.

Walaupun penyelundupan merupakan hal yang serius, laporan Bank Dunia tahun 1999 Curbing the Epidemic tetap menyimpulkan bahwa pajak rokok yang tinggi akan menekan konsumsi rokok serta menaikan pendapatan pemerintah. Langkah yang tepat bagi pemerintah adalah memerangi kejahatan dan bukannya mengorbankan kenaikan pajak pada rokok.

Selain itu ada klaim-klaim yang mengatakan bahwa industri rokok juga terlibat dalam penyelundupan rokok. Klaim seperti ini patut disikapi dengan serius.

Mitos:
Kecanduan rokok sudah sedemikian tinggi, menaikan pajak rokok tidak akan mengurangi permintaan rokok. Oleh karenanya menaikan pajak rokok tidak perlu.

Fakta:
Menaikan pajak rokok akan mengurangi jumlah perokok dan mengurangi kematian yang disebabkan oleh rokok. Kenaikan harga rokok akan membuat sejumlah perokok untuk berhenti dan mencegah lainnya untuk menjadi perokok atau mencegah lainnya menjadi perokok tetap. Kenaikan pajak rokok juga akan mengurangi jumlah orang yang kembali merokok dan mengurangi konsumsi rokok pada orang-orang yang masih merokok. Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang sensitif terhadap kenaikan harga rokok oleh karenanya mereka akan mengurangi pembelian rokok bila pajak rokok dinaikan.

Selain itu orang-orang dengan pendapat rendah juga lebih sensitif terhadap kenaikan harga, oleh karenanya kenaikan pajak rokok akan berpengaruh besar terhadap pembelian rokok di negara-negara berkembang.

Model yang dikembangkan oleh Bank Dunia dalam laporannya Curbing the Epidemic menunjukan kenaikan kenaikan harga rokok sebanyak 10% karena naiknya pajak rokok, akan membuat 40 juta orang yang hidup di tahun 1995 untuk berhenti merokok dan mencegah sedikitnya 10 juta kematian akibat rokok.

Mitos:
Pemerintah tidak perlu menaikan pajak rokok karena akan kenaikan tersebut akan merugikan konsumer berpendapatan rendah.

Fakta:
Perusahaan rokok beragumen bahwa harga rokok tidak seharusnya dinaikan karena bila begitu akan merugikan konsumen berpendapatan rendah. Tetapi, penelitian menunjukkan bahwa masyarakat berpendapatan rendah merupakan korban rokok yang paling dirugikan. Karena rokok akan memperberat beban kehidupan, meningkatkan kematian, menaikan biaya perawatan kesehatan yang harus mereka tanggung dan gaji yang terbuang untuk membeli rokok.

Masyarakat berpendapatan rendah paling bisa diuntungkan oleh harga rokok yang mahal karena akan membuat mereka lebih mudah berhenti merokok, mengurangi, atau menghindari kecanduan rokok karena makin terbatasnya kemampuan mereka untuk membeli. Keuntungan lain dari pajak rokok yang tinggi adalah bisa digunakan untuk program-program kesejahteraan masyarakat miskin.

Mitos:
Perokok menanggung sendiri beban biaya dari merokok.

Fakta:
Perokok membenani yang bukan perokok. Bukti-bukti biaya yang harus ditanggung bukan perokok seperti biaya kesehatan, gangguan, dan iritasi yang didapatkan dari asap rokok.

Ulasan di negara-negara kaya mengungkapkan bahwa perokok membebani asuransi kesehatan lebih besar daripada mereka yang tidak merokok (walaupun usia perokok biasanya lebih pendek). Apabila asuransi kesehatan dibayar oleh rakyat (seperti jamsostek) maka para perokok tentunya ikut membebankan biaya akibat merokok kepada orang lain juga.

source : http://www.seatca.org/upload_resource/202.doc

Linked Post:


Dampak Ekonomi dari Rokok – Rokok Sebenarnya Bikin Negara Tekor

dampak ekonomi dari rokokJakarta. Dampak Ekonomi Dari Rokok. Banyak yang berpendapat bahwa sulitnya mengendalikan tembakau karena pemerintah mendapatkan pemasukan yang sangat besar dari rokok. Padahal jika dihitung-hitung, rokok justru membuat negara rugi alias tekor.

Pelaksana Tugas Menteri Kesehatan, Prof. dr. Ali Gufron Mukti, MSc, Ph.D menuturkan bahwa sebenarnya biaya yang dikeluarkan untuk rokok, termasuk biaya kesehatan dan hilangnya produktivitas karena sakit, tidak sebanding bahkan jauh lebih besar ketimbang cukai yang diterima oleh negara.

Bila dihitung, cukai rokok tahun 2010 sekitar 50 triliun dan naik menjadi 70 triliun di tahun 2011. Sedangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk rokok dan akibat-akibatnya, bisa mencapai 230 triliun.

“Secara negara dan bangsa khususnya mengalami kerugian. Hitung-hitungannya kita bisa lihat berapa biaya yang dikeluarkan untuk rokok sehari, sebulan, setahun. Kemudian berapa yang sakit, berapa biaya produktivitas yang hilang karena sakit, kemudian biaya dari keluarga. Nah semuanya itu, lebih kurang 230 triliun, sementara kita lihat pajak itu sekitar 70 triliun,” ujar Prof. dr. Ali Gufron Mukti, MSc, Ph.D, Pelaksana Tugas Menteri Kesehatan, disela-sela acara Penyerahan WHO World No Tobacco Day Award untuk Alm Mantan Menkes Endang Sedyaningsih di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (13/6/2012).

Biaya langsung dan tidak langsung yang dikeluarkan untuk rokok bahkan lebih dari 3 kali lipat dari cukai yang diterima oleh negara. Ini artinya, rokok membuat negara rugi.

Disisi lain, banyak orang yang enggan berhenti merokok karena bahaya kesehatan yang mengancam tidak datang secara langsung, melainkan secara perlahan. Apalagi harga rokok di Indonesia terbilang murah jika dibandingkan negara lain.

Padahal rokok tidak memiliki manfaat kesehatan sama sekali. Bahkan jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk membakar rokok selama 10 tahun sudah bisa dipakai untuk membiayai berangkat haji ke tanah suci.

“Harusnya harga rokok memang disesuaikan ya, sehingga anak kecil dan yang sebetulnya tidak mampu tidak memaksakan diri, kemudian uangnya habis untuk rokok,” tutup Prof. Ali Gufron.

Sumber: detik.com, tgl. 13 Juni 2012

Linked Posts:


Di Balik Kanker Paru-paru Sang Mantan Menkes

kanker paru-paruKANKER Paru-paru menduduki urutan ke dua penyebab utama kematian seseorang akibat kanker, setelah kanker payudara. Kanker yang berasal dari sel-sel di dalam paru-paru ini bisa juga berasal dari kanker yang mengenai bagian tubuh lain, namun menjalar ke paru-paru.

Selama ini pengidap kanker paru-paru selalu diasosiasikan merupakan seorang “perokok hebat”, karena memang merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita.

Tetapi kasus yang terjadi pada kanker paru-paru stadium empat yang menjadi penyebab mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal dunia jelas tidak bisa dihubungkan dengan rokok, karena Endang sendiri bukanlah seorang perokok.

Mantan Menkes, Kanker Paru-paru dan Rokok

Kematian mantan Menteri Kesehatan merupakan sesuatu yang mengherankan bagi beberapa kalangan orang yang mengenalnya.

Rekan seangkatan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang juga Sekjen Kementerian Kesehatan, Ratna Rosita mengatakan, Endang tidak memiliki riwayat penyakit di pernapasannya sejak dahulu. Sementara sejak menjadi pemimpin Kementerian Kesehatan, Endang pun secara rutin melakukan general check up.

Menurutnya, seluruh jajarannya di Kementerian Kesehatan baru saja mengetahui penyakit yang diderita Endang pada Oktober 2010.

Asap rokok ternyata bukanlah satu-satunya penyebab kanker paru-paru. Kemungkinan besar alasan kanker paru-paru yang menyebabkan kematian mantan Menteri Kesehatan adalah akibat senyawa kimia. Seseorang yang tidak merokok dapat saja terkena kanker paru-paru, akibat terpapar radiasi atau menghirup zat-zat tertentu. Di laboratorium, zat-zat tersebut dapat ditemukan, seperti asbestos, arsen, kromat, nikel klorometil eter dan gas mustard.

Partikel-partikel pada zat berbahaya itu akan melukai paru-paru, yang kemudian menjadi “borok”. Hingga dalam jangka waktu 10 hingga 20 tahun, luka itu berubah menjadi kanker yang berbahaya. Dapat disimpulkan kanker paru-paru merupakan pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali di jaringan paru-paru.

Beberapa penyebab lain Kanker paru-paru

Merokok dan asap rokok memang penyebab utama kanker paru-paru, tapi tetap saja bukan satu-satunya.

“Kanker paru-paru penyebabnya multifaktor. Tidak hanya rokok, tapi memang paling banyak dan yang utama penyebabnya adalah rokok. Lingkungan sekitar juga mempengaruhi. Tempat tinggal kita misalnya. Contohnya asbes, telah diketahui orang yang tinggal dengan langit-langit menggunakan asbes itu memiliki risiko (kanker paru-paru), karena itu syarat bikin bangunan sedapat mungkin menghindari asbes,” tutur dr Ronald Hukom SpPD-KHOM, spesialis kanker pada orang dewasa dari RS Kanker Dharmais.

Sebuah gas bernama radon misalnya, yang merupakan gas alami, tidak berwarna dan tidak berbau, yang berada di uranium, di lingkungan industri dapat berkontribusi sebagai penyebab timbulnya kanker paru-paru. Masyarakat yang tinggal di kawasan Industri mengantisipasi masalah udara tak sehat ini dengan menggunakan masker.

Kemudian zat-zat karsinogenik yaitu nikel dan kronium, juga terdapat di banyak lingkungan sehari-hari, seperti di lingkungan perkantoran.

Selain itu, sebagai salah satu pemicu kanker paru-paru yang tak kalah berbahayanya adalah alkohol. Orang yang banyak minum alkohol, suatu saat berpotensi terkena kanker paru-paru, apalagi pada usia tua.

Kemudian seperti umumnya sifat kanker lainnya, kanker paru-paru ini pun bersifat genetik, namun hanya 10 hingga 15 persen. Bagi yang sudah mengetahui memang memiliki genetika kanker paru-paru, lebih baik hindari faktor-faktor “pencetus” lainnya.

Banyak penderita yang baru menyadari mengidap kanker paru-paru setelah berada pada stadium lanjut. Gejala kanker paru-paru stadium dini memang tidak terlalu nampak. Seperti yang terjadi pada mantan Menkes, baru pada Oktober 2010, dokter memvonis beliau menderita kanker paru-paru stadium tiga. ( Tiko Septianto / CN32 ) disarikan dari berbagai sumber

Sumber: SuaraMerdeka.com, 3-Mei-2012

Linked Post:

 


Waspadai Serangan Kanker Paru-paru

Di antara beberapa jenis penyakit kanker, kanker paru-paru terbilang penyakit yang paling cepat perkembangannya. Lihat saja, belakangan ini, terjadi kecenderungan peningkatan jumlah penderita kanker paru-paru mencapai 20 persen. Kanker paru-paru juga tergolong penyakit yang mematikan dan dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun perempuan.

Peningkatkan jumlah penderita penyakit kanker paru-paru tersebut seiring dengan meningkatnya jumlah perokok di Indonesia. Saat ini, jumlah perokok di Tanah Air menduduki peringkat ketiga di dunia. Berdasarkan data Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, selama dua tahun belakangan, jumlah pasien kanker paru-paru yang datang berobat ke rumah sakit tersebut mencapai 800 sampai 1.000 orang. Jumlah tersebut diprediksi akan bertambah menjadi 1.300 orang pada 2013.

Adapun komposisi pasien yang datang 75 persen kaum adam dan 25 persen kaum hawa. Dari pasien-pasien tersebut, kebanyakan kondisinya sudah mencapai stadium lanjut. “Berdasarkan analisis kami, sembilan dari 10 pasien menderita kanker paru-paru disebabkan oleh rokok,” papar Wiwien H Wiyono, Ketua Pertemuan Ilmiah Pulmonologi dan Ilmu Kdokteran Respirasi (PIPKRA), di sela-sela acara diskusi bertema “Penanggulangan Kanker Paru-paru Belum Optimal” di Hotel Borobudur, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Wiwien menambahkan, mengacu pada hasil analisis itu, diketahui bahwa 90 persen kasus kanker paru-paru disebabkan oleh racun rokok dan 20 persen disebabkan oleh bahan radioaktif atau radon. Bisa dikatakan radon merupakan penyebab kedua kanker paru-paru setelah racun yang ada di dalam rokok. Berdasarkan definisi ilmiahnya, radon adalah unsur kimia dengan nomor atom 86 dengan lambang kimia Rn.

Radon selalu berada dalam bentuk gas dan terlarut di dalam udara dengan kerapatan 10 gram per liter. Keberadaan radon di udara tidak dapat dikenali oleh sistem panca-indera manusia. “Selain racun rokok dan radon, bahan kimia serta polusi udara bisa menjadi penyebab kanker paru-paru. Penyakit tuberkulosis (TBC) pun bisa menjadi penyebab kanker paru-paru karena penyakit itu merupakan gejala awal kanker paru-paru,” tambah dokter spesialis paru-paru dari Rumah Sakit Persahabatan itu.

Jika diamati dari sisi medisnya, kanker paru-paru merupakan sebuah bentuk perkembangan sel yang sangat cepat (abnormal) sehingga terjadi perubahan jaringan sel atau ekspansi sel. Apabila dibiarkan, pertumbuhan abnormal tersebut dapat menyebar ke organ-organ lainnya, baik organ yang dekat dengan paruparu maupun organ yang jauh dari paru-paru, seperti tulang, hati, atau otak.

Penyakit itu berjangkit setelah pasien menginjak usia 40 tahun ke atas, tidak pada saat penderita masih berusia muda. Kaum muda yang berusia 17 tahun atau 20 tahun yang sudah menjadi perokok aktif berpeluang menderita kanker paru-paru.

Wiwien mengatakan hal tersebut semestinya disadari oleh para pemuda. Memang, ketika muda, mereka tidak merasakan gangguan apa pun, namun setelah berusia 40 tahun ke atas, banyak keluhan yang dirasakan, seperti batuk dan sesak napas. Melihat risiko dari kebiasaan merokok, hendaknya generasi muda menyadari untuk segera berhenti merokok.

Memang, bagi perokok aktif yang kemudian berhenti merokok, tidak berarti kondisi paru-parunya bisa langsung membaik. Menurut Wiwien, umumnya dibutuhkan waktu cukup lama, sekitar 15 tahun, untuk membersihkan atau menormalkan paru-paru. “Butuh perjuangan panjang untuk mengembalikan kondisi paru-paru. Oleh sebab itu, dari sekarang, mulailah meninggalkan kebiasaan merokok,” tambah ahli paru-paru dari Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu.

Kenali Gejalanya
Gejala kanker paru-paru, tambah Wiwien, sebenarnya tidak sulit me ngenalinya. Dua di antaranya ialah batuk-batuk kecil yang berkepanjang an dan sulit diobati. Apabila kondisinya sudah parah, batuk-batuk tersebut biasanya disertai keluarnya darah.

Gejala lainnya ialah sesak napas. Penderita kanker paru-paru biasanya kesulitan bernapas, berat badan terus menurun, dan cepat lelah. Kondisi itu disebabkan paru-parunya telah bergantung sehingga tidak bisa bekerja normal. Selain batuk-batuk dan merasa cepat lelah, nyeri di punggung merupakan gejala lain dari kanker paru-paru. Hal itu dikarenakan kanker berada di bagian tepi jaringan paru-paru atau tersembunyi di belakang jantung.

Kanker paru-paru yang ditandai dengan nyeri punggung biasanya sulit terdeteksi, bahkan pemeriksaan melalui foto rontgen terkadang tidak dapat mendeteksinya. “Jika mengalami nyeri punggung berkepanjangan, jangan anggap enteng dan jangan selalu dianggap masuk angin, lalu minum obat antimasuk angin. Jika setelah meminum obat tetapi rasa nyeri tetap ada, sebaiknya langsung berobat, jangan dibiarkan karena hal itu berbahaya,” imbau Wiwien.

Untuk mengenal gejala kanker paru-paru secara cepat, dibutuhkan kemampuan tenaga medis yang andal. Ketika melakukan pemeriksaan, biasanya mereka dapat langsung mengidentifikasi penyakit pasien, apakah TBC atau kanker paru-paru. Apabila seorang pasien teridentifikasi positif kanker paruparu, sebaiknya cepat ditangani.

Pada umumnya, pasien baru berobat ke dokter ketika penyakitnya sudah parah dan mulai membesar di atas 3 cm. Untuk pengobatan, biasanya hal itu bergantung pada tingkat penyakit yang diderita. Dilakukan operasi atau tidaknya terlepas dari riwayat dan penyebab kanker. “Kanker paru-paru bisa sembuh kalau sel-sel kanker sudah diangkat, biasanya menggunakan metode operasi,” ujar Wiwien. faisal chaniago

Sumber: Koran Jakarta, Minggu 19 February 2012

Linked Posts:
Kanker Paru-paru | Asap Tembakau Sebabkan Kerusakan Dini Paru-paru | Kanker — Penyakit Kanker | Kanker Serviks | Kanker Darah | Tumor | Tuberkulosis (TBC) | Mengobati Flek Paru-paru | Mengobati Kanker Otak | Mengobati Kanker Payudara | Kanker Bisa Membuat Keluarga Bangkrut

=================================================================================
Promo Produk
White Propolis Exist 
“Suplemen Dan Obat Alami”

Propolis bisa menjadi solusi kesehatan untuk berbagai penyakit yang bekerja secara holistic tanpa efek samping. Hampir seluruh Kitab Suci menulis tentang Lebah.

Q.S. AN NAHL : Ayat. 68 & 69
……..Keluarlah dari perutnya syaraabun (cairan) beraneka warna, dan padanya syifa (penyembuhan) bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda bagi kaum yang memikirkan.

Kandungan Propolis:
1. Bioflavonoids (Kuersetin) : Memulihkan system kapilari serta memperbaiki kerapuhan dan kebocoran saluran darah. Propolis ProSMART memiliki kandungan Bioflavonoids (kuersetin) tertinggi di dunia, yaitu mencapai 140 mg/ml atau 14% . Propolis proSMART sangat baik untuk perlindungan Jantung dan Tubuh Anda.
2. Protein ( 16 Asam amino Esensial)
3. Vitamin dan mineral

Fungsi Propolis bagi manusia
1. Detoksifikasi (Membuangan racun dan Kuman Penyakit dari dalam tubuh)
2. Antibiotika Alami (antimicrobial seperti virus, bakteri dan jamur)
3. Anti Radang
4. Anti Alergi
5. Meningkatkan Imunitas / Kekebalan Tubuh
6. Anti Oksidan (mencegah kanker dan membunuh sel kanker)
7. Nutrisi (memperbaiki dan regenerasi sel tubuh)

Klik Selanjutnya
AGEN PROPOLIS
Apa Itu Propolis ? | Propolis Untuk Masalah Jantung | Propolis Stop Cuci Darah gagal Ginjal | Propolis Gagalkan Amputasi Diabetes | Agen Propolis