Lupus Penyakit Seribu Wajah

Lupus Penyakit Yang Susah DikenaliAwalnya, Lia, 32 tahun, tak mengira bisa terkena penyakit ini. Ibu dua anak tersebut disarankan oleh keluarganya untuk tidak melakukan aktivitas berlebihan karena, kalau letih, Lia akan merasakan nyeri sendi, sakit kepala, dan badan lemas. Belakangan, diketahui bahwa Lia mengidap lupus atau systemic lupus erythematosus.

Lupus merupakan penyakit kronis yang dikenal sebagai penyakit autoimun. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Jika tubuh penderita HIV/AIDS tidak bisa memproduksi zat antibodi sebagai sistem kekebalan tubuh, tubuh penderita lupus akan menghasilkan antibodi secara berlebihan.

Manusia membentuk antibodi yang gunanya melindungi tubuh dari berbagai serangan virus, kuman, dan bakteri. Sementara pada penderita lupus, produksi antibodi menjadi berlebihan. Antibodi ini tidak lagi berfungsi melawan virus, tapi justru menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri.

Menurut Ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI), Tiara Safitri, hingga saat ini, belum diketahui pasti penyebab dari lupus. Namun, ada tiga faktor yang memicu munculnya lupus, yakni faktor genetik, lingkungan, dan hormonal.

“Kalau faktor hormonal itu kenapa 90 persen penderitanya perempuan? Kalau lingkungan berkaitan dengan pola hidup sehari-hari, pola pikir, tingkat stres. Bukan berarti kita nggak boleh stres, tapi bagaimana kita mengelola stres. Karena stres pemicu yang paling cepat lupus untuk keluar, bukan penyebab,” ungkap Tiara.

Meski bukan penyakit menular, memang agak sulit mendeteksi keberadaan lupus dalam tubuh seseorang. Gejala awal yang dialami saat lupus mulai bersemayam di tubuh antara lain sakit pada sendi, demam berkepanjangan, ruam pada kulit, bercak merah pada wajah yang berbentuk seperti kupu-kupu, sensitif terhadap sinar matahari, dan rambut rontok.

Tiara mengatakan jika seseorang sudah mengalami gejala demikian, belum tentu positif menderita lupus. Perlu pemeriksaan lebih intensif untuk menentukan seseorang menderita lupus. Jika minimal empat dari gejala tersebut pernah dialami, Tiara menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam.

“Setelah itu, dokter akan melihat apakah memenuhi kriteria lupus. Dokter juga akan memberi pemeriksaan penunjang, ada diagnosis dan klinik. Ini harus ada keduanya dan minimal empat kriteria. Kalau bingung, ada YLI yang siap memberikan informasi,” jelasnya. (afz/R-2)

Bersifat Mimikri

Salah satu masalah yang membuat lupus sulit dideteksi adalah karena mampu menyerupai penyakit lain (mimikri). Karena itulah lupus disebut penyakit seribu wajah. Gejala tersebut merupakan gejala yang biasa dialami siapa saja.

Banyak orang yang mungkin menganggap bukan masalah serius jika mengalaminya. Penderita lupus juga akan mengalami gejala-gejala tersebut meski bukan dalam waktu bersamaan. Kemungkinan gejala tersebut dialami dalam waktu yang lebih lama.

Pengobatan yang ampuh untuk melenyapkan lupus memang belum ada. Namun, bukan berarti tidak ada harapan. Pengobatan bagi penderita lupus, kata Tiara, sangat variatif, bergantung pada tipe, berat-ringannya lupus, organ tubuh yang terkena, dan komplikasinya. Saat ini, banyak terapi steroid digunakan untuk menekan produksi antibodi yang berlebih.

“Kelebihan ini yang justru harus ditekan. Itulah kenapa kalau ditanya obatnya apa, padahal sebenarnya nggak ada obatnya. Obatnya ada, tapi fungsinya hanya menekan agar antibodi yang diproduksi tidak berlebih dan tidak menyerang organ itu,” jelasnya.

Biasanya, untuk pertama kali, dokter akan memberikan obat per miligram kali berat badan. Setelah itu, biasanya dokter akan memberi dosis terendah yang diperlukan. Harga obat steroid pun sekarang tergolong murah karena adanya obat generik. Penderita lupus bisa berhenti mengonsumsi obat kalau kondisinya stabil kembali.

“Kekambuhan juga bisa datang lagi, tapi bagaimana kita mempertahankan tubuh. Tidak ada penyakit yang tidak kambuh lagi walaupun itu hanya sakit kepala. Kalau kondisinya ringan, otomatis pengobatannya sangat ringan dan murah. Kalau kondisi lupusnya berat, pengobatan juga jadi berat dan mahal. Semakin cepat terdeteksi, semakin mudah dan murah pula menanganinya,” terangnya.

Karena tidak menular, lupus pun tidak bisa dicegah. Untuk itulah Tiara selalu mengingatkan untuk selalu mempraktikkan gaya hidup sehat. Menurutnya, segala sesuatu harus dijalankan dengan seimbang. Tidak kekurangan dan berlebihan akan lebih baik.

“Jadi, saya menyarankan kita menjalankan pola hidup sehat, sama seperti orang normal lainnya. Yang paling gampang makan seimbang tiga kali sehari itu wajib. Olah raga minimal 30 menit jalan cepat, kalau nggak bisa yang lain. Hindari rokok dan alkohol, istirahat cukup, dan mengelola stres. Orang sehat juga begitu, apalagi orang lupus,” tuturnya. (afz/R-2)

Butuh Sosialisasi dan Kepedulian

Berdasarkan data YLI, saat ini diperkirakan ada 14.000 penderita lupus di Indonesia. Namun, Tiara memperkirakan penderita lupus sebenarnya lebih 1,5 juta orang berdasarkan beberapa penilaian.

Yang pertama adalah karena banyak warga masyarakat yang belum tanggap terhadap penyakit ini. Selain itu, dokter yang memiliki pengetahuan tentang lupus masih sedikit. Kedua faktor itulah yang membuat penanganan lupus di Indonesia kurang  maksimal.

“Banyak juga dokter yang belum mengerti tentang lupus, dan memang tidak ada dokter khusus lupus. Tetapi itu tergantung bagaimana dokter itu mau belajar. Kalau dokternya nggak mengerti, bisa salah pengobatan. Sebenarnya yang sangat kami butuhkan adalah sosialisasi dan kepedulian. Salah satu yang sangat membantu kami sosialisasi lupus adalah media. Walaupun cuma menulis tentang lupus, orang akan mencari tahu,” pungkasnya. afz/R-2

Sumber: Koran-Jakarta.com

Linked Posts:


Penyakit Lupus (Lupus erythematosus)

penyakit lupusPenyakit Lupus (Lupus Erythematosus ) secara sederhana digambarkan bila tubuh menjadi alergi pada dirinya sendiri. Penyakit Lupus diduga berkaitan dengan sistem imunologi yang berlebih. Pada penderita penyakit lupus, tubuh yang memiliki system kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga tetap sehat justru menyerang organ tubuh yang sehat.

Lupus dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan/serigala”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Hal ini disebabkan penderita penyakit ini pada umumnya memiliki butterfly rash atau ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa di pipi serigala, tetapi berwarna putih.

Penyakit Lupus dalam ilmu kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu ketika penyakit ini sudah menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini adalah kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Pada Penyakit Lupus, tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Dengan demikian, Penyakit Lupus disebut sebagai autoimmune disease (penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan).

Pada penderita penyakit lupus, antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua cara yaitu :.

Pertama, antibodi aneh ini bisa langsung menyerang jaringan sel tubuh, seperti pada sel-sel darah merah yang menyebabkan selnya akan hancur. Inilah yang mengakibatkan penderitanya kekurangan sel darah merah atau anemia.

Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pembentukan antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun, yaitu gabungan antibodi dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan.

Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang (fagosit) Tetapi, dalam keadaan abnormal, kompleks ini tidak dapat dibatasi dengan baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil mengeluarkan enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks.

Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak organ tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat sebagai gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang fungsi organ tubuh akan terganggu.

Penyebab dan Gejala Penyakit Lupus

Penyakit Lupus tergolong misterius. Para dokter kadang bingung mendiagnosis penyakit ini. Awalnya, penderita penyakit lupus dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi. Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh.

Jumlah penderita Penyakit Lupus ini tidak terlalu banyak. Menurut data pustaka, di Amerika Serikat ditemukan 14,6 sampai 50,8 per 100.000. Di Indonesia bisa dijumpai mencapai sekitar 50.000 penderita.

RS Ciptomangunkusumo Jakarta, dari 71 kasus yang ditangani sejak awal 1991 sampai akhir 1996 , 1 dari 23 penderitanya adalah laki-laki. Penyakit Lupus masih sangat awam bagi masyarakat.

Setelah diteliti penyebab Penyakit Lupus karena faktor keturunan dan lingkungan.Penyakit ini justru diderita wanita usia produktif sampai usia 50 tahun. Namun begitu, ada juga pria yang mengalaminya. Ahli menduga penyakit lupus ini berhubungan dengan hormon estrogen.

Karena Penyakit Lupus menyerang wanita subur, kerap menimbulkan berbagai aspek kesehatan. Misalnya hubungan dengan kehamilan yang menyebabkan abortus, gangguan perkembangan janin atau pun bayi meninggal saat lahir.

Namun, hal ini bisa saja terjadi sebaliknya. Artinya, justru kehamilan bisa memperburuk gejala Penyakit Lupus. Sering dijumpai gejala penyakit Lupus muncul sewaktu hamil atau setelah melahirkan.

Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap Penyakit Lupus. Untuk sembuh total dari Penyakit Lupus, tampaknya sulit. Dokter lebih berfokus pada pengobatan yang sifatnya sementara.Lebih difokuskan untuk mencegah meluasnya penyakit dan tidak menyerang organ vital tubuh.

Jenis Penyakit Lupus

Penyakit Lupus memiliki tiga macam bentuk, yang pertama yaitu Cutaneus Lupus, seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus(SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. Ketiga, Drug Induced Lupus(DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang.

Biasanya orang hidup dengan Penyakit Lupus (odapus) akan menghindari hal-hal yang dapat membuat penyakitnya kambuh dengan :

  1. Menghindari stress
  2. Menjaga agar tidak langsung terkena sinar matahari
  3. mengurangi beban kerja yang berlebihan
  4. menghindari pemakaian obat tertentu.

Odapus dapat memeriksakaan diri pada dokter2 pemerhati penyakit ini, dokter spesialis penyakit dalam konsultasi hematologi, rheumatology, ginjal, hipertensi, alergi imunologi, jika penyakit lupus dapat tertanggulangi, berobat dengan teratur, minum obat teratur yang di berikan oleh dokter (yang biasanya diminum seumur hidup), odapus akan dapat hidup layaknya orang normal.

Sumber: dari berbagai sumber

Linked Posts :